Dia mencipta dan Dia memilih. Dia bebas dengan kehendak dan mahuNya. DiciptaNya langit dan bumi, lalu dilayarkan lewat samudera masa dalam 12 bulan yang berulang – ulang. DipilihNya 4 daripadanya, lalu dinobatkan kemuliaannya sebagai bulan – bulan yang haram (mulia). Itulah pilihanNya sedari alam tercipta di tangan dan mahuNya.
Ramadhan adalah daripada 12 tetapi bukan daripada 4 yang terpilih oleh mahuNya itu. Ia terpinggir dari arus kemuliaan tetapi ia tiada gusar! Ia menanti dalam sabar dan rindu. Ia merindu dalam cinta dan tasbih. Saatnya nabi agung terutus, saatnya umat agung terbangkit, ia akan menari dan bersuka ria dalam malam tiada terperi.
Di malamnya, satu daripada 30, dari lapis langit ketujuh tersaksilah pada sekelian alam kejadian janji agung yang terkota oleh al Rabbul Jalil. Turun berjejeranlah dan berbanjar – banjarlah para malaikat Allah didepani ‘al Ruuh’ beralunan lunak tasbih dan tahmid, memuji dan memuja pada meraikan dan merayakan turunnya sebuah janji agung daripada empunya semesta alam, Rabbul alamiin.
Malam itu al Quran turun. Turunlah dari kota Lauh Mahfuz, dari utuh Ummil Kitab, dari sisi arasyNya yang agung. Turunlah ke lapis terbawah daripada langit yang terhias oleh jutaan bintik – bintik bintang bercahaya berkerdipan bagai lampu – lampu neon di majlis perajaan.
Ia malam penuh berkat. Diberkati dan memberkati. Malam Lailatul Qadr. Malam setanding seribu bulan, sejangkau 80 tahun hayat insani. Berimanlah, beramallah di malam terkota janji ganjaran seribu bulan dalam iman dan amal! Bertempiklah, bertakbirlah, manikam janji yang tidak terperi..
Satu malam yang memberkati 30 malam disekelilingnya. Malam – malam Ramadhan yang penuh keberkatan. Dia bertandang kepada kita, tetapi kitalah tetamunya, bukan dia tetamu kita. Dia menjamu dan kita dijamu sepuas – puasnya.
Al Quran turun dari langit diiring Jibril ‘alaihissalam menuju insan teragung, Muhammad sallaLlahu alaihi wasallam di gua Hira’, gua tauhid dan kebenaran. Bacalah wahai Muhammad, dengan nama Tuhanmu..
Kita di bumi. Al Quran di langit. Ramadhan menarik langit ke bawah dan menolak bumi ke atas. Ramadhan adalah medan masa kita dan al Quran berjabat. Berpeganglah pada tali al Quran sekuat – kuatnya agar kita tidak jatuh ke bumi, ke lembah palsu dan plastik! Atau, al Quran diangkat langit dek tiada yang mengendahinya.
Kallaa! Tidak sesekali tidak! Inilah umat Muhammad. Tercipta untuk terpilih oleh mahu Empunya alam. Terpilih untuk menjadi pemegang amanah kalamNya yang suci dan yang agung hingga dunia digoncang janji dan ajal tuannya. Selagi umat Muhammad, selagi itulah al Quran dibaca, ditadabbur dan dilunaskan dalam medan amal dan perjuangan. Dalam hidup dan kehidupan..
Allah, Allah, Allah.. Aku tersyahdu menghirup al QuranMu. Jadikan aku hambaMu. Kerana aku hambaMu.
Selamat berkunjung ke qaryah Ramadhan. Kampung masa yang kudus dan khusyu’ diterangi juntaian neon ayat – ayatNya yang memancar menerangi dunia yang kelam dan gelap.
Tuesday, August 25, 2009
Sunday, August 23, 2009
Perjanjian Dua Kalimah Syahadah Di Alam Ghaib
Dua permulaan telah dia ceritakan oleh baginda Rasulallah, sesungguhnya setiap nabi-nabi terdahulu telah ditaklifkan dengan kekuatan, pertolongan dan keimanan. Apabila mereka diutuskan kerana untuk menyempurnakan agama dan menyempurnakan iman.
Dalam perbahasan yang di rakamkan dalam Al-Quran memberitahu tempoh masa zaman-zaman yang terdahulu. Daripada penerangan Al-Quran, Allah SWT telah memegang janji-janji di atas seluruh bani Adam sejak dari alam roh lagi iaitu syahadah “penyaksian bahawa tiada tuhan melainkan Allah”.
Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan ingatlah ,ketika tuhanmu mengeluarkan keterunan anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",surah Al A’raf ayat 172.
Juga supaya kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu[582]?"[582]. Maksudnya: agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan orang-orang tua mereka itu". surah Al A’raf ayat 173.
“Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. Surah Al A’raaf 174.
Maka yang demikian itu Allah mengambil janji-janji ke atas nabi-nabi mereka, sedangkan mereka masih dialam roh lagi iaitu “penyaksian bahawa nabi Muhammad itu pesuruh Allah” maka mengambilah janji-janji tersebut bahawa mereka beriman dengan Muhammad saw, membenarkannya dan menolongnya sekiranya di utuskan sebagai penutup nabi akhir zaman.
KETETAPAN PERJANJIAN DENGAN PENYASIAN:
Firman Allah SWT mengenai:
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya iaitu berjanji kepada Allah s.w.t. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya . Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". Surah ali Imran ayat 81.
“Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. Surah ali Imran ayat 82.
Oleh yang demikian itu perjanjian di antara para nabi sebelum mereka di utuskan di alam yang nyata ini ke semua para nabi terdahulu mereka telah beriman dengan utusan akhir zaman iaitu kekasih Allah Muhammad Pesuruh Allah.
Dalam perbahasan yang di rakamkan dalam Al-Quran memberitahu tempoh masa zaman-zaman yang terdahulu. Daripada penerangan Al-Quran, Allah SWT telah memegang janji-janji di atas seluruh bani Adam sejak dari alam roh lagi iaitu syahadah “penyaksian bahawa tiada tuhan melainkan Allah”.
Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan ingatlah ,ketika tuhanmu mengeluarkan keterunan anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",surah Al A’raf ayat 172.
Juga supaya kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu[582]?"[582]. Maksudnya: agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan orang-orang tua mereka itu". surah Al A’raf ayat 173.
“Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. Surah Al A’raaf 174.
Maka yang demikian itu Allah mengambil janji-janji ke atas nabi-nabi mereka, sedangkan mereka masih dialam roh lagi iaitu “penyaksian bahawa nabi Muhammad itu pesuruh Allah” maka mengambilah janji-janji tersebut bahawa mereka beriman dengan Muhammad saw, membenarkannya dan menolongnya sekiranya di utuskan sebagai penutup nabi akhir zaman.
KETETAPAN PERJANJIAN DENGAN PENYASIAN:
Firman Allah SWT mengenai:
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya iaitu berjanji kepada Allah s.w.t. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya . Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". Surah ali Imran ayat 81.
“Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. Surah ali Imran ayat 82.
Oleh yang demikian itu perjanjian di antara para nabi sebelum mereka di utuskan di alam yang nyata ini ke semua para nabi terdahulu mereka telah beriman dengan utusan akhir zaman iaitu kekasih Allah Muhammad Pesuruh Allah.
RaMadHaN
Ramadhan : Kembalilah Kepada Allah...
Monday, 17 August 2009 13:53 Halu Satonaka
Sumber : Nazril Online
1. Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Shahru Siam, Nas alullaha Rahman, Rahmatan ‘Ala Dawam.. Saban hari penuh dengan kesibukan, diri agak alpa tentang kehadiran tetamu agung yang sentiasa dinantikan oleh umat Islam dari seluruh pelusuk negara. Tetamu yang sentiasa datang bertandang selama sebulan pada setiap tahun di setiap hati sanubari umat Islam, mudah-mudahan kita sudah bersedia menerima kehadiran tetamu agung ini. Samada kita bersedia atau tidak ianya tetap akan datang mengunjungi kita. Kehadirannya sangat bermakna kerana dijanjikan pelbagai anugerah bagi mereka yang bersedia menerima kunjungannya. Itulah bulan Ramadhan, tetamu istimewa yang dimaksudkan, sentiasa datang dengan janji-janji Allah Taala untuk ditunaikan kepada mereka yang mentaatiNya. Saya pernah menulis berkenaan persediaan untuk menyambutnya, oleh itu tidak perlulah diperjelaskan lagi, apa yang ada pada hari ini adalah kita telah menyiapkan persediaan tersebut.
2. Melihat kepada perkembangan semasa yang penuh dengan gambaran bencana, musibah, dan pelbagai kerosakan yang sebenarnya adalah dari tangan manusia itu sendiri, meruncingkan pelbagai pihak, seolah-olah tiada lagi sifat kasih sayang dan pemurah Allah Taala. Kita seolah-olah menganggap Allah Taala melupai kita, sedangkan kitalah yang melupaiNya. Sudah tibanya masanya, dengan kehadiran bulan Ramadhan ini agar sama-sama kita kembali kepada Allah Taala dan menyandarkan segala-galanya kepada Allah Taala jua. Sememangnya permulaan kepada kehadiran bulan yang agung ini, kita pasti menyedari untuk kembali kepada Allah Taala dengan mengharapkan rahmat serta limpah anugerah yang tidak terkira. Allah Taala jualah yang memakbulkan harapan dan permintaan kita dengan sebaik-baik penerimaan kerana kita adalah hambaNya. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui kebaikan dan kekurangan hambaNya. Pintalah dan pohonlah kepada Allah Taala, kerana pemberian diberikan kepada mereka yang berhajat.firman Allah Taala di dalam Surah Taubah ayat 60:
{إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمَسَاكِينِ}
“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir (mereka yang berhajat), dan orang-orang miskin”.
3. Apa yang kita hajatkan tidak lain hanyalah rahmatNya, maghfirahNya serta keredhaanNya. Pemberian daripada Allah Taala hanyalah diberikan kepada hati yang sentiasa mengharapkan daripada Allah Taala di dalam keadaan merendah diri dengan keagungan dan keesaanNya, sepertimana kata Nabi Musa A.S. melalui ayat Al-Quran Surah Qasas ayat 24:
{رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ}
"Wahai Tuhanku, Sesungguhnya Aku sangat berhajat kepada sebarang rezeki pemberian Yang Engkau berikan".
Firman Allah Taala lagi di dalam Surah Fatir ayat 15:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ الغَنِيُّ الحَمِيدُ
“Wahai umat manusia, kamulah Yang sentiasa berhajat kepada Allah (dalam Segala perkara), sedang Allah Dia lah sahaja Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.”
Oleh itu, sekiranya manusia sentiasa berhajat kepada Allah Taala, pastinya mereka tidak lagi mengharapkan makhluk selain Allah Taala jua.
4. Sesunguhnya Allah Taala memerintahkan hambaNya dengan kembali kepadaNya melalui ayat Al-Quran dengan disandarkan kepada para nabi dan hamba-hambaNya yang soleh. Allah Taala menyandarkan Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah Taala dalam apa jua urusan dengan firmanNya di dalam surah Syura ayat 10:
{ذَلِكُمُ اللهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ}
“Yang demikian kekuasaannya ialah Allah Tuhanku; kepadaNyalah Aku berserah diri dan kepadaNyalah Aku rujuk kembali (dalam Segala keadaan)".
Allah Taala juga menceritakan sifat Nabi Ibrahim yang sentiasa kembali menyerahkan urusan kepadaNya melalui firman di dalam surah Hud ayat 75:
{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ}
“Sesungguhnya Nabi Ibrahim, penyabar, lembut hati (bertimbang rasa) lagi suka kembali kepada Allah Dengan mengerjakan amal bakti”.
Pelbagai lagi ayat Al-Quran yang menceritakan perihal mereka yang kembali kepada Allah Taala. Sekiranya para nabi dan rasul juga menyerahkan urusan kepada Allah Taala, maka lebih-lebih lagilah umatnya yang penuh dengan kesilapan dan kelemahan. Allah Taala berfirman di dalam surah Luqman ayat 15:
{وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ}
“dan Turutlah jalan orang-orang Yang rujuk kembali kepadaKu (dengan Tauhid dan amal-amal Yang soleh). kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu semuanya”.
5. Kita sentiasa diperintahkan untuk sentiasa mentadabbur (menghayati) ayat Allah Taala di dalam Al-Quran satu persatu kalimah yang dipertuturkan serta menghayati dan bertafakkur dengan setiap kalimah bagi memahami kehendak perintah Allah Taala untuk dilaksanakan. Apabila kita membaca ayat Al-Quran di dalam surah Az-zumar ayat 54:
{وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ}
"Dan kembalilah kamu kepada Tuhan kamu Dengan bertaubat, serta berserah bulat-bulat kepadaNya”,
maka renungkan dan fikirkan sejenak apakah kaedah dan manhaj yang digunakan untuk kembali kepada Allah Taala? Para ulama tasawuf apabila mentadabbur ayat ini, mereka meletakkan beberapa peringkat untuk sampai kepada tahap kembali kepada Allah (inabah). Peringkat Inabah dapat dilaksanakan selepas seseorang itu mempunyai kesedaran (yaqazah), diikuti taubat dan muhasabah. Para ulama juga menggariskan ciri-ciri inabah ini kepada 4 asas iaitu, mahabbah (perasaan kasih sayang), merendah diri, berhadapan dengan Allah, dan membelakangi selain daripada Allah.
6. Kaedah yang paling tepat berdasarkan 4 asas ini untuk kita kembali kepada Allah Taala terdapat di dalam solat. Ya, solat kita menunjukkan kembalinya kita kepada Allah Taala. Syaratnya mestilah membezakan di antara adat dan ibadat. Jadikan solat kita benar-benar sebagai ibadat bukannya adat. Oleh yang demikian Rasulullah SAW menjadikan solat sebagai tiang-tiang kepada agama dan sepenting-penting perkara. Baginda bersabda:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة, فمن تركها فقد كفر
“Perbezaan di antara kita dan mereka adalah solat, sesiapa yang meninggalkannya adalah kufur”. (hadis Buraidah Radiallahu ‘anhu Riwayat Tirmizi).
Rasulullah SAW tidak menyatakan Kafir sebaliknya menggunakan lafaz Madhi sebagai menjaga hati umatnya, sekiranya Baginda SAW menyatakan kafir, ianya bermaksud terkeluar daripada agama, yang dimaksudkan oleh baginda SAW adalah menanggung dosa yang berat seumpama perbuatan orang kafir bukannya kafir aqidah. Allah Taala berfirman di dalam surah Al-Baqarah ketika menceritakan perihal keagungan solat:
{وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الخَاشِعِينَ}
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) Dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang”.
Daripada ayat ini seorang ulama, Imam Al-Hafiz Mohammad bin Al-Maruzi (294H) menghimpunkan hadis-hadis yang menceritakan keagungan solat di dalam kitabnya القيم تعظيم قدر الصلاة.
7. Bulan Ramadhan adalah bulan Solat dan Qiamulail kerana Rasulullah SAW menggalakkan umatnya untuk melaksanakannya. Sabda Baginda SAW:
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Sesiapa yang melaksanakan qiam pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengaharapkan rahmat Allah, diampunkan dosanya yang terdahulu” (Riwayat Imam Bukhari daripada sanad Abu Hurairah).
Saidina Umar Al-Khattab telah menunjukkan sunnah kepada umatnya pada bulan Ramadhan berkenaan solat tarawih dan kaedah perlaksanaannya. Merupakan sunnah baginda SAW pada asalnya tetapi perlaksanaannya sahaja oleh Saidina Umar Al-Khattab, merupakan dalil bahawa tidak semua perkara yang ditinggalkan Rasulullah SAW menunjukkan bid’ah. Bahkan bid’ah terbahagi kepada 2 bahagian iaitu mahmudah dan mazmumah berdasarkan hadis Jarir bin Abdullah riwayat Imam Muslim.
8. Oleh itu solat adalah menunjukkan kepada kaedah Inabah (kembali kepada Allah). Dalilnya ialah dengan solat seseorang itu menghadap qiblat menunjukkan beliau sentiasa berhadapan dengan Allah Taala, di mana Allah menjadikan arah untuk dihadapkan kepadaNya, maka tidak boleh sama sekali mengadap ke arah lain. Seseorang sememangnya boleh mengadap selain daripada arah yang ditetapkan, tetapi Allah Taala menjadikan kaabah sebagai arah solat menunjukkan segalanya adalah dihadapkan kepadaNya jua. Pada waktu yang sama ketika kita berhadapan dengan qiblat yang ditetapkan, maka kita telah membelakangi segala-galanya daripada makhlukNya. Begitu juga apabila seseorang memulakan solatnya dengan menyebut lafaz Allahu Akbar ketika takbiratul Ihram, maka diharamkan ketika itu samada bercakap, makan, minum, bermain atau melakukan perkara-perkara yang sia-sia. Firman Allah Taala:
{وَقُومُوا للهِ قَانِتِينَ}
“dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) Dengan taat dan khusyuk”.
Sepertimana sabda baginda Nabi SAW:
إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس, إنما هي التسبيح والتكبير وقراءة القرآن
“sesungguhnya solat ini tidak mengubah sesautu pun dengan percakapan manusia, sebaliknya hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al-Quran. (Hadis Muawiyah riwayat Muslim).
9. Kesimpulannya solat menunjukkan seseorang itu kembali kepada Allah Taala. Apabila seseorang itu memberikan dirinya untuk Allah ketika solat menunjukkan mahabbah (kasihnya kepada Allah). Sekiranya ia sujud pula menunjukkan keadaannya yang merendah diri dengan keagungan Allah. Manakala apabila ia menghadap qiblat menunjukkan ia berhadapan dengan Allah Taala dan apabila ia tidak memikirkan keadaan persekitarannya ketika solat menunjukkan bahawa beliau benar-benar membelakangi selain daripada Allah Taala. Daripada 4 ciri yang terdapat pada solat ini menunjukkan hakikat kembalinya kita kepada Allah (Inabah)
Al-Fadhil Ustaz Nazril
Universiti Al-Azhar Syarif
Monday, 17 August 2009 13:53 Halu Satonaka
Sumber : Nazril Online
1. Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Shahru Siam, Nas alullaha Rahman, Rahmatan ‘Ala Dawam.. Saban hari penuh dengan kesibukan, diri agak alpa tentang kehadiran tetamu agung yang sentiasa dinantikan oleh umat Islam dari seluruh pelusuk negara. Tetamu yang sentiasa datang bertandang selama sebulan pada setiap tahun di setiap hati sanubari umat Islam, mudah-mudahan kita sudah bersedia menerima kehadiran tetamu agung ini. Samada kita bersedia atau tidak ianya tetap akan datang mengunjungi kita. Kehadirannya sangat bermakna kerana dijanjikan pelbagai anugerah bagi mereka yang bersedia menerima kunjungannya. Itulah bulan Ramadhan, tetamu istimewa yang dimaksudkan, sentiasa datang dengan janji-janji Allah Taala untuk ditunaikan kepada mereka yang mentaatiNya. Saya pernah menulis berkenaan persediaan untuk menyambutnya, oleh itu tidak perlulah diperjelaskan lagi, apa yang ada pada hari ini adalah kita telah menyiapkan persediaan tersebut.
2. Melihat kepada perkembangan semasa yang penuh dengan gambaran bencana, musibah, dan pelbagai kerosakan yang sebenarnya adalah dari tangan manusia itu sendiri, meruncingkan pelbagai pihak, seolah-olah tiada lagi sifat kasih sayang dan pemurah Allah Taala. Kita seolah-olah menganggap Allah Taala melupai kita, sedangkan kitalah yang melupaiNya. Sudah tibanya masanya, dengan kehadiran bulan Ramadhan ini agar sama-sama kita kembali kepada Allah Taala dan menyandarkan segala-galanya kepada Allah Taala jua. Sememangnya permulaan kepada kehadiran bulan yang agung ini, kita pasti menyedari untuk kembali kepada Allah Taala dengan mengharapkan rahmat serta limpah anugerah yang tidak terkira. Allah Taala jualah yang memakbulkan harapan dan permintaan kita dengan sebaik-baik penerimaan kerana kita adalah hambaNya. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui kebaikan dan kekurangan hambaNya. Pintalah dan pohonlah kepada Allah Taala, kerana pemberian diberikan kepada mereka yang berhajat.firman Allah Taala di dalam Surah Taubah ayat 60:
{إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمَسَاكِينِ}
“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir (mereka yang berhajat), dan orang-orang miskin”.
3. Apa yang kita hajatkan tidak lain hanyalah rahmatNya, maghfirahNya serta keredhaanNya. Pemberian daripada Allah Taala hanyalah diberikan kepada hati yang sentiasa mengharapkan daripada Allah Taala di dalam keadaan merendah diri dengan keagungan dan keesaanNya, sepertimana kata Nabi Musa A.S. melalui ayat Al-Quran Surah Qasas ayat 24:
{رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ}
"Wahai Tuhanku, Sesungguhnya Aku sangat berhajat kepada sebarang rezeki pemberian Yang Engkau berikan".
Firman Allah Taala lagi di dalam Surah Fatir ayat 15:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ الغَنِيُّ الحَمِيدُ
“Wahai umat manusia, kamulah Yang sentiasa berhajat kepada Allah (dalam Segala perkara), sedang Allah Dia lah sahaja Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.”
Oleh itu, sekiranya manusia sentiasa berhajat kepada Allah Taala, pastinya mereka tidak lagi mengharapkan makhluk selain Allah Taala jua.
4. Sesunguhnya Allah Taala memerintahkan hambaNya dengan kembali kepadaNya melalui ayat Al-Quran dengan disandarkan kepada para nabi dan hamba-hambaNya yang soleh. Allah Taala menyandarkan Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah Taala dalam apa jua urusan dengan firmanNya di dalam surah Syura ayat 10:
{ذَلِكُمُ اللهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ}
“Yang demikian kekuasaannya ialah Allah Tuhanku; kepadaNyalah Aku berserah diri dan kepadaNyalah Aku rujuk kembali (dalam Segala keadaan)".
Allah Taala juga menceritakan sifat Nabi Ibrahim yang sentiasa kembali menyerahkan urusan kepadaNya melalui firman di dalam surah Hud ayat 75:
{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ}
“Sesungguhnya Nabi Ibrahim, penyabar, lembut hati (bertimbang rasa) lagi suka kembali kepada Allah Dengan mengerjakan amal bakti”.
Pelbagai lagi ayat Al-Quran yang menceritakan perihal mereka yang kembali kepada Allah Taala. Sekiranya para nabi dan rasul juga menyerahkan urusan kepada Allah Taala, maka lebih-lebih lagilah umatnya yang penuh dengan kesilapan dan kelemahan. Allah Taala berfirman di dalam surah Luqman ayat 15:
{وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ}
“dan Turutlah jalan orang-orang Yang rujuk kembali kepadaKu (dengan Tauhid dan amal-amal Yang soleh). kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu semuanya”.
5. Kita sentiasa diperintahkan untuk sentiasa mentadabbur (menghayati) ayat Allah Taala di dalam Al-Quran satu persatu kalimah yang dipertuturkan serta menghayati dan bertafakkur dengan setiap kalimah bagi memahami kehendak perintah Allah Taala untuk dilaksanakan. Apabila kita membaca ayat Al-Quran di dalam surah Az-zumar ayat 54:
{وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ}
"Dan kembalilah kamu kepada Tuhan kamu Dengan bertaubat, serta berserah bulat-bulat kepadaNya”,
maka renungkan dan fikirkan sejenak apakah kaedah dan manhaj yang digunakan untuk kembali kepada Allah Taala? Para ulama tasawuf apabila mentadabbur ayat ini, mereka meletakkan beberapa peringkat untuk sampai kepada tahap kembali kepada Allah (inabah). Peringkat Inabah dapat dilaksanakan selepas seseorang itu mempunyai kesedaran (yaqazah), diikuti taubat dan muhasabah. Para ulama juga menggariskan ciri-ciri inabah ini kepada 4 asas iaitu, mahabbah (perasaan kasih sayang), merendah diri, berhadapan dengan Allah, dan membelakangi selain daripada Allah.
6. Kaedah yang paling tepat berdasarkan 4 asas ini untuk kita kembali kepada Allah Taala terdapat di dalam solat. Ya, solat kita menunjukkan kembalinya kita kepada Allah Taala. Syaratnya mestilah membezakan di antara adat dan ibadat. Jadikan solat kita benar-benar sebagai ibadat bukannya adat. Oleh yang demikian Rasulullah SAW menjadikan solat sebagai tiang-tiang kepada agama dan sepenting-penting perkara. Baginda bersabda:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة, فمن تركها فقد كفر
“Perbezaan di antara kita dan mereka adalah solat, sesiapa yang meninggalkannya adalah kufur”. (hadis Buraidah Radiallahu ‘anhu Riwayat Tirmizi).
Rasulullah SAW tidak menyatakan Kafir sebaliknya menggunakan lafaz Madhi sebagai menjaga hati umatnya, sekiranya Baginda SAW menyatakan kafir, ianya bermaksud terkeluar daripada agama, yang dimaksudkan oleh baginda SAW adalah menanggung dosa yang berat seumpama perbuatan orang kafir bukannya kafir aqidah. Allah Taala berfirman di dalam surah Al-Baqarah ketika menceritakan perihal keagungan solat:
{وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الخَاشِعِينَ}
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) Dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang”.
Daripada ayat ini seorang ulama, Imam Al-Hafiz Mohammad bin Al-Maruzi (294H) menghimpunkan hadis-hadis yang menceritakan keagungan solat di dalam kitabnya القيم تعظيم قدر الصلاة.
7. Bulan Ramadhan adalah bulan Solat dan Qiamulail kerana Rasulullah SAW menggalakkan umatnya untuk melaksanakannya. Sabda Baginda SAW:
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Sesiapa yang melaksanakan qiam pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengaharapkan rahmat Allah, diampunkan dosanya yang terdahulu” (Riwayat Imam Bukhari daripada sanad Abu Hurairah).
Saidina Umar Al-Khattab telah menunjukkan sunnah kepada umatnya pada bulan Ramadhan berkenaan solat tarawih dan kaedah perlaksanaannya. Merupakan sunnah baginda SAW pada asalnya tetapi perlaksanaannya sahaja oleh Saidina Umar Al-Khattab, merupakan dalil bahawa tidak semua perkara yang ditinggalkan Rasulullah SAW menunjukkan bid’ah. Bahkan bid’ah terbahagi kepada 2 bahagian iaitu mahmudah dan mazmumah berdasarkan hadis Jarir bin Abdullah riwayat Imam Muslim.
8. Oleh itu solat adalah menunjukkan kepada kaedah Inabah (kembali kepada Allah). Dalilnya ialah dengan solat seseorang itu menghadap qiblat menunjukkan beliau sentiasa berhadapan dengan Allah Taala, di mana Allah menjadikan arah untuk dihadapkan kepadaNya, maka tidak boleh sama sekali mengadap ke arah lain. Seseorang sememangnya boleh mengadap selain daripada arah yang ditetapkan, tetapi Allah Taala menjadikan kaabah sebagai arah solat menunjukkan segalanya adalah dihadapkan kepadaNya jua. Pada waktu yang sama ketika kita berhadapan dengan qiblat yang ditetapkan, maka kita telah membelakangi segala-galanya daripada makhlukNya. Begitu juga apabila seseorang memulakan solatnya dengan menyebut lafaz Allahu Akbar ketika takbiratul Ihram, maka diharamkan ketika itu samada bercakap, makan, minum, bermain atau melakukan perkara-perkara yang sia-sia. Firman Allah Taala:
{وَقُومُوا للهِ قَانِتِينَ}
“dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) Dengan taat dan khusyuk”.
Sepertimana sabda baginda Nabi SAW:
إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس, إنما هي التسبيح والتكبير وقراءة القرآن
“sesungguhnya solat ini tidak mengubah sesautu pun dengan percakapan manusia, sebaliknya hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al-Quran. (Hadis Muawiyah riwayat Muslim).
9. Kesimpulannya solat menunjukkan seseorang itu kembali kepada Allah Taala. Apabila seseorang itu memberikan dirinya untuk Allah ketika solat menunjukkan mahabbah (kasihnya kepada Allah). Sekiranya ia sujud pula menunjukkan keadaannya yang merendah diri dengan keagungan Allah. Manakala apabila ia menghadap qiblat menunjukkan ia berhadapan dengan Allah Taala dan apabila ia tidak memikirkan keadaan persekitarannya ketika solat menunjukkan bahawa beliau benar-benar membelakangi selain daripada Allah Taala. Daripada 4 ciri yang terdapat pada solat ini menunjukkan hakikat kembalinya kita kepada Allah (Inabah)
Al-Fadhil Ustaz Nazril
Universiti Al-Azhar Syarif
Monday, July 6, 2009
10 Rancangan Kuffar Untuk Hancurkan Islam
1) Lenyapkan sistem pemerintahan Islam.
2) Menghapuskan Al-Qur'an.
3) Hancurkan akhlak Muslim, fikiran , hubungan mereka dengan Allah dan bebaskan mereka mengikut hawa nafsu.
4) Lenyapkan kesatuan kaum Muslimin.
5) Ragukan kaum Muslimin terhadap agamanya.
6) Lemahkan bangsa Arab.
7) Dirikan negara diktator di dunia Islam.
8) Pisahkan kaum Muslimin dari menguasai perindustrian dan biarkan mereka hancur dengan barangan Barat.
9) Singkirkan tokoh-tokoh Islam dan tamatkan Gerakannya.
10) Rosakkan wanita dan kembangkan pergaulan bebas.
2) Menghapuskan Al-Qur'an.
3) Hancurkan akhlak Muslim, fikiran , hubungan mereka dengan Allah dan bebaskan mereka mengikut hawa nafsu.
4) Lenyapkan kesatuan kaum Muslimin.
5) Ragukan kaum Muslimin terhadap agamanya.
6) Lemahkan bangsa Arab.
7) Dirikan negara diktator di dunia Islam.
8) Pisahkan kaum Muslimin dari menguasai perindustrian dan biarkan mereka hancur dengan barangan Barat.
9) Singkirkan tokoh-tokoh Islam dan tamatkan Gerakannya.
10) Rosakkan wanita dan kembangkan pergaulan bebas.
Monday, June 22, 2009
wANitA
ALLAH berfirman:
"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa."
"Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan."
"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya."
"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh."
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya."
"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya."
"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu."
"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan bilapun ia perlukan."
"Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.
"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, kerana itulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada."
"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa."
"Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan."
"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya."
"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh."
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya."
"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya."
"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu."
"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan bilapun ia perlukan."
"Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.
"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, kerana itulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada."
DOA..........
DOA SEWAKTU BERSUJUD DAN KEISTIMEWAANNYA
Sewaktu bersujud, kita berada amat hampir dengan Allah. Katakanlah apa
sahaja di dalam hati hajat kita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
s. a. w. yang biasa memanjangkan sujudnya dengan memperbanyakkan zikir dan
doa didalamnya.
Sabda Rasulullah s. a. w :- "Suasana yang paling hampir antara seseorang
hamba dengan Tuhannya ialah di kala ia bersujud kerana itu hendaklah kamu
memperbanyakkan doa di dalamnya."
Banyak doa yang diamalkan oleh Rasulullah untuk kita ikuti. Sala h satunya
yang paling baik untuk diamalkan ialah doa yang dibaca sewaktu sujud akhir
dalam solat.
"Ya Allah, tambahkanlah bagiku rezeki yang banyak lagi halal, imam yang
benar, ilmu yang bermanfaat, kesihatan yang elok, kecerdikan yang tinggi,
hati yang bersih dan kejayaan yang besar."
Semoga dengan mengamalkan doa itu kita mendapat manfaat atau
sekurang-kurangnya menjadi cita-cita kita dalam mencari keredhaan Allah
dunia dan akhirat.
Banyak kelebihan memanjangkan sujud dan memperbanyakkan doa di dalamnya.
Rasulullah s. a. w biasa berbuat begitu sehingga pernah para sahabat hairan
kerana lamanya baginda bersujud.
Keistimewaan umatnya yang bersujud telah disebut oleh baginda dalam
sabdanya yang bermaksud:-
"Tiadalah ada seorang umatku melainkan aku yang akan mengenalinya di hari
kiamat"
Mendengar itu para sahabat bertanya: "Bagaimanakah engkau dapat mengenali
mereka dalam khalayak ramai wahai Rasulullah?"
Jawab baginda: "Tidakkah engkau melihat seandainya sekumpulan unta dimasuki
oleh seekor kuda yang amat hitam, sedang di dalamnya pula terdapat sekor
kuda putih bersih, maka adakah engkau tidak dapat mengenalinya?"
Sahabat Menjawab: "Bahkan !" Rasulullah menyambung: "Kerana sesungguhnya
pada hari itu (kiamat) muka umatku akan putih (berser-seri) disebabkan
mereka bersujud (di dunia), segala anggota mereka ( terutama anggota wudu')
putih berseri-seri oleh cahaya wudhu' !!!"
KEISTIMEWAANNYA
------------ ---------
Ahli neraka juga mendapat keselamatan kerana bekas sujudnya. Rasulullah s.a. w. bersabda yang bermaksud:-
"Apabila Allah hendak melimpahkan Rahmat (kebaikan) kepada ahli-ahli neraka
yang Dia kehendaki, Dia pun memerintahkan malaikat supaya mengeluarkan
orang-orang yang menyembah Allah, lalu mereka dikeluarkan dan mereka
dikenali dengan kesan-kesan sujud (di dahi mereka), di mana Allah menegah
neraka memakan (menghapuskan) bekas-bekas sujud itu, lalu mereka pun keluar
dari neraka, maka setiap tubuh anak Adam akan dimakan api neraka selain
bekas sujud"
Begitulah Allah memuliakan hamba-Nya yang bersujud. Orang yang sujud
mendapat keistimewaannya apatah lagi di dalam sujud itu kita berdoa. Sudah
tentu mendapat perhatian yang sewajarnya. Semoga kita akan menjadi hamba
yang benar-benar mendapat rahmat.
Sewaktu bersujud, kita berada amat hampir dengan Allah. Katakanlah apa
sahaja di dalam hati hajat kita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
s. a. w. yang biasa memanjangkan sujudnya dengan memperbanyakkan zikir dan
doa didalamnya.
Sabda Rasulullah s. a. w :- "Suasana yang paling hampir antara seseorang
hamba dengan Tuhannya ialah di kala ia bersujud kerana itu hendaklah kamu
memperbanyakkan doa di dalamnya."
Banyak doa yang diamalkan oleh Rasulullah untuk kita ikuti. Sala h satunya
yang paling baik untuk diamalkan ialah doa yang dibaca sewaktu sujud akhir
dalam solat.
"Ya Allah, tambahkanlah bagiku rezeki yang banyak lagi halal, imam yang
benar, ilmu yang bermanfaat, kesihatan yang elok, kecerdikan yang tinggi,
hati yang bersih dan kejayaan yang besar."
Semoga dengan mengamalkan doa itu kita mendapat manfaat atau
sekurang-kurangnya menjadi cita-cita kita dalam mencari keredhaan Allah
dunia dan akhirat.
Banyak kelebihan memanjangkan sujud dan memperbanyakkan doa di dalamnya.
Rasulullah s. a. w biasa berbuat begitu sehingga pernah para sahabat hairan
kerana lamanya baginda bersujud.
Keistimewaan umatnya yang bersujud telah disebut oleh baginda dalam
sabdanya yang bermaksud:-
"Tiadalah ada seorang umatku melainkan aku yang akan mengenalinya di hari
kiamat"
Mendengar itu para sahabat bertanya: "Bagaimanakah engkau dapat mengenali
mereka dalam khalayak ramai wahai Rasulullah?"
Jawab baginda: "Tidakkah engkau melihat seandainya sekumpulan unta dimasuki
oleh seekor kuda yang amat hitam, sedang di dalamnya pula terdapat sekor
kuda putih bersih, maka adakah engkau tidak dapat mengenalinya?"
Sahabat Menjawab: "Bahkan !" Rasulullah menyambung: "Kerana sesungguhnya
pada hari itu (kiamat) muka umatku akan putih (berser-seri) disebabkan
mereka bersujud (di dunia), segala anggota mereka ( terutama anggota wudu')
putih berseri-seri oleh cahaya wudhu' !!!"
KEISTIMEWAANNYA
------------ ---------
Ahli neraka juga mendapat keselamatan kerana bekas sujudnya. Rasulullah s.a. w. bersabda yang bermaksud:-
"Apabila Allah hendak melimpahkan Rahmat (kebaikan) kepada ahli-ahli neraka
yang Dia kehendaki, Dia pun memerintahkan malaikat supaya mengeluarkan
orang-orang yang menyembah Allah, lalu mereka dikeluarkan dan mereka
dikenali dengan kesan-kesan sujud (di dahi mereka), di mana Allah menegah
neraka memakan (menghapuskan) bekas-bekas sujud itu, lalu mereka pun keluar
dari neraka, maka setiap tubuh anak Adam akan dimakan api neraka selain
bekas sujud"
Begitulah Allah memuliakan hamba-Nya yang bersujud. Orang yang sujud
mendapat keistimewaannya apatah lagi di dalam sujud itu kita berdoa. Sudah
tentu mendapat perhatian yang sewajarnya. Semoga kita akan menjadi hamba
yang benar-benar mendapat rahmat.
Sunday, June 14, 2009
MaLaiKat IzrAIL
Berbagai bentuk Malaikat Izrail Mencabut Nyawa
Bila sampai masa kematian, maka Allah SWT mengutus malaikat Maut (Izrail) mencabut roh dari tubuh orang tersebut. Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Dan Dialah yang mempunyai kuasa tertinggi di atas hambaNya. Dan diutusNya, padamu malaikat-malaikat penjaga. Sehingga apabila datang kematian pada salah seorang di antaramu lalu ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kaini, dan malaikat-malaikat Kaini itu tidak melalaikan kewajipannya."(Al-An 'un: 61)
Sekiranya orang yang akan dicabut rohnya itu orang Mukmin yang tidak berdosa, maka malaikat itu datang sebagai seorang yang rupawan. Tetapi jika datang pada orang kafir dan munafik maka mereka mendatanginya dengan rupa yang menakutkan.Bara' bin Azib telah meriwayatkan yang dikutip dalam hadith Sunan Abi Daud, Hakim, Ahmad dan lainnya menyebutkan hal tersebut sebagai berikut: "Sesunguhnya jika orang Mukmin, maka ketika dia akan keluar dari dunia ini dan menuju alam akhirat, maka dia didatangi malaikat yang turun dari langit dengan muka yang putih berseri.
Seolah-olah wajah malaikat itu seperti sinar matahari. Mereka itu membawa kain kafan yang dibawa dari syurga. Juga membawa wangian dari syurga. Malaikat datang sambil duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat Maut dengan duduk di sisi kepalanya. Malaikat itu mengatakan: "Hai nafas yang baik (tenang), keluarlah anda sekarang dengan mendapatkan ampunan dari Allah dan kerelaanNya." Kemudian keluarlah roh itu seperti mengalirnya sebuah titisan yang berasal dari satu minuman, kemudian malaikat itu mengambil roh itu. "Dan sesungguhnya jika orang yang akan dicabut itu roh orang yang kafir, (dalam riwayat yang lain: orang yang "fajir" ertinya penjahat, penzina atan pendusta) maka ketika orang itu di dunia lalu dia didatangi malaikat yang turun dari langit (yang keadaannya kejam dan kasar) dengan rupanya yang hitam.
Dengan membawa pakaian berbulu, lalu mereka duduk daripadanya sejauh mata memandang. Lalu Malaikat Maut (Izrail) datang dan duduk di sisi kepalanya, sambil mengatakan, "Hai roh yang jahat, keluarlah engkau sekarang menuju kemurkaan Allah dan kemarahanNya ." Lalu dipisahkan roh itu dari tubuhnya, yang terpisahnya itu laksana dicabutnya bulu basah oleh besi panas (yang kemudian diikuti dengan putusnya keringatnya dan urat sarafnya)." (Lihat Hadith riwayat Hakim, Abu Daud, Ahmad dan lainnya).Semasa hal itu berlaku, mereka yang hidup berada di sampingnya tidak tahu apa-apa, tidak melihat sesuatu.
Perhatikan firman Allah SWT yang bermaksud: "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat."(Al- Waqiah: 83-85) Nabi SAW telah mengungkapkan tentang adanya malaikat maut yang akan memberikan berita gembira kepada mereka yang akan mati sebagai seseorang mukmin dengan janji ampunan Allah serta kecintaanNya. Namun bagi mereka yang kafir atau orang yang jahat (berdosa), bagi mereka dijanjikan pula adanya kemurkaan dan kemarahan Allah kepadanya. Berkaitan janji syurga kepada orang Mukmin yang akan mati telah diterangkan Allah dalam AI-Quran yang ertinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun pada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan beroleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia mahupun akhirat, yang di dalamnya kamu akan beroleh apa yang kamu inginkan, dan akan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang."(FusshiIat: 30-32)
Firman di atas menurut para ahli tafsir turun berkenaan dengan orang yang akan mati dalam keadaan serba takut dan susah, menghadapi masa akan datangnya kematian. Bahkan takutnya orang-orang yang akan mati kemudian. Dengan ayat ini maka jelaslah bahawa malaikat akan turun padanya nanti pada saat-saat kematiannya dengan berita yang membawa ketenteraman, yang seolah-olah malaikat itu akan mengatakan: "Janganlah anda susah dalam menghadapi masa akan datang, baik ketika di alam barzakh mahupun di akhirat nanti. Juga anda tidak perlu susah tentang keluarga anda, anak-anak anda, mahupun hutang-hutang anda." Bahkan diberinya berita dengan janji akan dimasukkan syurga sebagai berita gembira. Sebaliknya, bagi orang yang kafir maka malaikat berjanji kepada mereka untuk menempatkan mereka di neraka jahannam. Sepertimana Allah SWT firmankan dalam Al-Quran tentang malaikat yang akan mematikan mereka yang kafir dalam peperangan Badar, seperti dalam ayat yang menyebutkan: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka dan berkata: Rasakanlah olehmu seksa neraka yang membakar. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menganiaya hambaNya."(AL-Anfal: 50-51) Dari firman Ilahi di atas menunjukkan pada kita bagaimana para malaikat mencabut roh orang yang kafir, maka merupakan suatu cara yang mengerikan; para malaikat itu memukul wajah dan belakang mereka dan malaikat mengatakan; "Rasakanlah engkau sekarang dengan seksaan yang pedih." Kisah itu berlaka dalam peperangan Badar, namun hal itu boleh terjadi bila-bila masa saja berkaitan masalah yang menyangkut kekafiran; tidak hanya khusus bagi orang-orang kafir dalam perang Badar. Boleh berlaku pada hari ini untuk orang yang kafir.
Bila sampai masa kematian, maka Allah SWT mengutus malaikat Maut (Izrail) mencabut roh dari tubuh orang tersebut. Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Dan Dialah yang mempunyai kuasa tertinggi di atas hambaNya. Dan diutusNya, padamu malaikat-malaikat penjaga. Sehingga apabila datang kematian pada salah seorang di antaramu lalu ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kaini, dan malaikat-malaikat Kaini itu tidak melalaikan kewajipannya."(Al-An 'un: 61)
Sekiranya orang yang akan dicabut rohnya itu orang Mukmin yang tidak berdosa, maka malaikat itu datang sebagai seorang yang rupawan. Tetapi jika datang pada orang kafir dan munafik maka mereka mendatanginya dengan rupa yang menakutkan.Bara' bin Azib telah meriwayatkan yang dikutip dalam hadith Sunan Abi Daud, Hakim, Ahmad dan lainnya menyebutkan hal tersebut sebagai berikut: "Sesunguhnya jika orang Mukmin, maka ketika dia akan keluar dari dunia ini dan menuju alam akhirat, maka dia didatangi malaikat yang turun dari langit dengan muka yang putih berseri.
Seolah-olah wajah malaikat itu seperti sinar matahari. Mereka itu membawa kain kafan yang dibawa dari syurga. Juga membawa wangian dari syurga. Malaikat datang sambil duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat Maut dengan duduk di sisi kepalanya. Malaikat itu mengatakan: "Hai nafas yang baik (tenang), keluarlah anda sekarang dengan mendapatkan ampunan dari Allah dan kerelaanNya." Kemudian keluarlah roh itu seperti mengalirnya sebuah titisan yang berasal dari satu minuman, kemudian malaikat itu mengambil roh itu. "Dan sesungguhnya jika orang yang akan dicabut itu roh orang yang kafir, (dalam riwayat yang lain: orang yang "fajir" ertinya penjahat, penzina atan pendusta) maka ketika orang itu di dunia lalu dia didatangi malaikat yang turun dari langit (yang keadaannya kejam dan kasar) dengan rupanya yang hitam.
Dengan membawa pakaian berbulu, lalu mereka duduk daripadanya sejauh mata memandang. Lalu Malaikat Maut (Izrail) datang dan duduk di sisi kepalanya, sambil mengatakan, "Hai roh yang jahat, keluarlah engkau sekarang menuju kemurkaan Allah dan kemarahanNya ." Lalu dipisahkan roh itu dari tubuhnya, yang terpisahnya itu laksana dicabutnya bulu basah oleh besi panas (yang kemudian diikuti dengan putusnya keringatnya dan urat sarafnya)." (Lihat Hadith riwayat Hakim, Abu Daud, Ahmad dan lainnya).Semasa hal itu berlaku, mereka yang hidup berada di sampingnya tidak tahu apa-apa, tidak melihat sesuatu.
Perhatikan firman Allah SWT yang bermaksud: "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat."(Al- Waqiah: 83-85) Nabi SAW telah mengungkapkan tentang adanya malaikat maut yang akan memberikan berita gembira kepada mereka yang akan mati sebagai seseorang mukmin dengan janji ampunan Allah serta kecintaanNya. Namun bagi mereka yang kafir atau orang yang jahat (berdosa), bagi mereka dijanjikan pula adanya kemurkaan dan kemarahan Allah kepadanya. Berkaitan janji syurga kepada orang Mukmin yang akan mati telah diterangkan Allah dalam AI-Quran yang ertinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun pada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan beroleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia mahupun akhirat, yang di dalamnya kamu akan beroleh apa yang kamu inginkan, dan akan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang."(FusshiIat: 30-32)
Firman di atas menurut para ahli tafsir turun berkenaan dengan orang yang akan mati dalam keadaan serba takut dan susah, menghadapi masa akan datangnya kematian. Bahkan takutnya orang-orang yang akan mati kemudian. Dengan ayat ini maka jelaslah bahawa malaikat akan turun padanya nanti pada saat-saat kematiannya dengan berita yang membawa ketenteraman, yang seolah-olah malaikat itu akan mengatakan: "Janganlah anda susah dalam menghadapi masa akan datang, baik ketika di alam barzakh mahupun di akhirat nanti. Juga anda tidak perlu susah tentang keluarga anda, anak-anak anda, mahupun hutang-hutang anda." Bahkan diberinya berita dengan janji akan dimasukkan syurga sebagai berita gembira. Sebaliknya, bagi orang yang kafir maka malaikat berjanji kepada mereka untuk menempatkan mereka di neraka jahannam. Sepertimana Allah SWT firmankan dalam Al-Quran tentang malaikat yang akan mematikan mereka yang kafir dalam peperangan Badar, seperti dalam ayat yang menyebutkan: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka dan berkata: Rasakanlah olehmu seksa neraka yang membakar. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menganiaya hambaNya."(AL-Anfal: 50-51) Dari firman Ilahi di atas menunjukkan pada kita bagaimana para malaikat mencabut roh orang yang kafir, maka merupakan suatu cara yang mengerikan; para malaikat itu memukul wajah dan belakang mereka dan malaikat mengatakan; "Rasakanlah engkau sekarang dengan seksaan yang pedih." Kisah itu berlaka dalam peperangan Badar, namun hal itu boleh terjadi bila-bila masa saja berkaitan masalah yang menyangkut kekafiran; tidak hanya khusus bagi orang-orang kafir dalam perang Badar. Boleh berlaku pada hari ini untuk orang yang kafir.
Subscribe to:
Posts (Atom)